CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Saturday, November 4, 2017

Minta Maaf

Setelah baca-baca lagi posting kemarin, malam ini aku jadi terpikir. Apa jadinya jika ia yang kusebut teman membacanya? Akankah hatinya sedih? Apakah ia menyadari bahwa tulisan itu tertuju padanya? Terlepas dari apa yang ia lakukan, aku jadi berpikir lagi. Masih ada kemungkinan bahwa semua itu hanya kebetulan. Ia tidak benar-benar sengaja menccariku disaat-saat terdesak saja. 
Aku harusnya bersyukur, setidaknya aku masih bisa berguna untuk sesama. Setidaknya, aku bisa bercengkrama dengan ia yang sudah menemani masa-masa sekolahku dari putih merah hingga ke putih abu. 
Setidaknya, dalam 1 jam kami bertemu, aku bisa sepenuhnya menjadi diriku sendiri. Aku bisa bebas bercerita apapun yang tidak bisa kuceritakan pada siapapun. Aku bisa menertawakan kehidupan tanpa merasa takut lawan bicaraku tersinggung. Kami jarang saling memuji, tapi tidak pernah membiarkan satu sama lain terus menerus melakukan hal yang salah. Kami jarang bertemu, tapi ketika berkumpul bersama tidak pernah kehabisan bahan cerita. Aku baru menyadari bahwa dia adalah satu-satunya teman yang kuanggap paling mengerti diriku. Ia orang yang tulus, pandai bergaul tapi tidak lihai berpura-pura. Ia selalu tulus dimataku. Lantas, apa yang meracuni pikiranku beberapa hari lalu?
Aku bukan tipe orang yang cepat akrab dengan orang baru. Aku juga sulit untuk mengungkapkan perasaan dengan benar. Aku selalu berhasil terlihat cuek dan selalu bias mengontrol emosiku tanpa perlu berusaha keras. Didepan banyak orang. Yah, karena aku memang tidak peduli.
Tapi kau tahu, aku selalu berusaha sangat keras untuk menyembunyikan kegelisahan didepan keluargaku, teman terdekatku, dan dia yang kusebut mr. K. Aku lebih sering menumpahkan emosi didepan layar laptop dan dalam malam-malam sunyi yang memaksa air mataku tumpah. Sendirian. Terkadang aku menjadi lemah, rapuh, sensitif. Tapi sekali lagi, semua itu hanya kupendam sendiri. Oh, kau tahu bagaimana menderitanya menjadi seorang introvert seperti aku?
Dan malam ini, aku baru menyadari betapa egoisnya aku pada temanku sendiri. Ia yang didepannya aku selalu merasa nyaman. Aku bersalah karena menganggapnya egois. Padahal kenyataannya, aku yang egois karena merasa telah terlalu baik padanya. Hah?