CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Thursday, January 4, 2024

2024

I woke up today & realized something was off but it is the 4th day of 2024 already. I have a big plan this year, tho it will not going as I wish how it should be. maybe Allah has a better plan for me. okay let's break down it one by one I wish that I will held a wedding in an intimate event, just me and my husband and the whole family and closest friends. we will laugh, take thousand pictures, dance, sing those love songs until our throat is crying for help XD there will be delicious food, we'll eat until we got on food coma and after that we'll sitting by together, mama will tell my husb's fam about how clumsy I was, and his mama will do the same thing about him (LOL we'll be EVEN) although I wish I could see my dad in my wedding day, take a picture of our complete formation, but it is impossible. I'll still be happy bcs this is what he always wanted. I marry the best man I ever met after him. everything that makes my mom and dad happy, I'll do it. and after that day, we'll go off for a ten days vacation aka honeymoon. it doesn't have to be somewhere far away, or abroad, just beach or mountains, I'll be happy with that. we'll sit by the sea shore and see sunsets or chasing for sunrise. or we can go hiking or just sitting in the villa, in the middle of somewhere on the mountain. just enjoy our days off work hahaha. then we'll go back to P-town to continue our life, working our ass off to makes bread and butter. but this time we come together as two. a pair. a couple. till the rest of our life. the end

Saturday, February 11, 2023

Internship

Dinding putih, udara dingin, berbagai bau yang menyeruak, orang-orang yang berlalu lalang, suara brankar didorong. Ah, sudah hampir tiga bulan aku berada di rumah sakit ini. Tidak terasa, begitu kata orang. Hari pertama, aku ditempatkan di bangsal. Bangsal kami terdiri dari dua lantai. Cukup melelahkan jika harus naik turun dengan tangga. Namun, seolah diminta betah, hari pertama kulewati dengan cukup mudah. Tak banyak yang mengeluh, pun tak ada hal gawat. Hari-hari selanjutnya, aku terbiasa dengan berbagai kegawatan yang kutemui dari mereka yang tergolek sakit itu. Pernah sekali waktu, baru saja kumulai pergantian shift, aku dan seorang dokter definitif (dokter penanggung jawab ruangan) langsung dipanggil ke kamar salah satu pasien. Penurunan kesadaran dengan skala Glasgow Coma 3. Artinya, sang pasien tak merespon apapun terhadap rangsang baik verbal, taktil, maupun nyeri. Kuperiksa refleks cahaya di kedua bola matanya, masih ada rupanya. Mulutnya seperti mengeluarkan busa. Dari dalam kerongkongannya terdengar suara seperti orang berkumur-gargling, pertanda cairan mulai memenuhi saluran napasnya. Kuminta salah seorang perawat untuk mengambil suction-alat penghisap cairan untuk menyelamatkan jalan napasnya. Aku kembali ke nurse station sembari membaca ulang catatan medik pasien tersebut, sembari menunggu suction sampai. Selang hitungan menit, keluarga pasien berlari menghampiri kami. Mendadak apneu--henti napas. Aku dan seorang dokter lainnya berlari ke kamar pasien tersebut seraya menginstruksikan untuk mengambil sungkup napas, bersiap untuk melakukan resusitasi jantung paru-RJP. Ku lihat tak ada napas spontan lagi, pun nadi carotis sudah tak teraba. Kulakukan RJP 2 siklus, epinefrin diinjeksikan, cek lagi nadi dan napas, nihil. Saturasi oksigen tak terdeteksi, kami bersiap EKG-rekam jantung untuk melihat apakah ada aktivitas kelistrikan di mesin pompa termahsyur buatan Tuhan yang maha dahsyat itu. Masih asystole, kulakukan RJP bergantian dengan rekan dokterku saat itu hingga lima siklus. EKG ulang dan terekam gelombang lurus tanpa bukit-bukit kelistrikan lagi. Refleks cahaya sudah tak ada, pupil melebar maksimal. Pasien dinyatakan meninggal Patah hati terberat adalah melihat respon keluarga pasien saat kami mengumumkan berita duka itu. Ada yang diam pasrah, ada yang mengamuk tak terima, ada yang hanya bisa meratap sambil memeluk jasad beku disampingnya. Aku tak sanggup berlama-lama disitu. Di lain waktu, kala bertugas di IGD, pasien anak-anak datang dengan keluhan sesak dan batuk sudah beberapa hari. Setelah diusut, dalam tiga hari terakhir ia mengalami demam. Tampak tarikan dinding dada, artinya pernapasannya sudah sulit sehingga harus dibantu oleh otot-otot tambahan. Hasil rontgen menunjukkan bercak-bercak putih di kanan-kiri, pertanda infeksi pada jaringan paru. Tangannya diinfus, obat-obat diberikan untuk mengatasi infeksi. Ia juga dipasangkan selang oksigen. Saturasi mulai naik, pasien kemudia ditransfer ke bangsal untuk perawatan lebih lanjut. Selang beberapa hari, ia sudah boleh pulang karena menunjukkan perbaikan. Pernah pula seorang ibu datang menjerit sambil menggendong anaknya. Rupanya ia kesakitan sekaligus panik karena sang anak mengalami kejang hingga menggigit tangan sang Ibu yang mencoba mencegahnya menggigit lidah sendiri. Tangan dan kakinya kencang dan kaku. Pasien langsung dilarikan ke ruang observasi dan diberikan obat melalui dubur. Selang beberapa menit, kulihat ia sudah menangis di pelukan ibunya, artinya si anak sudah sadar dan berhenti kejang. Kelahiran, kematian, kesembuhan, perburukan, adalah hal yang lumrah ditemukan disini. Semua itu kuharap menjadi alasan agar aku lebih memaknai kehidupan berharga yang diberikan. Sungguh, aku tak pernah menyesal memilih pekerjaan ini. Meski harus melewati tahapan sekolah yang panjang dan harus belajar lagi seumur hidup, tiap detiknya tak pernah kusesali. Aku berterima kasih pada Tuhan yang memberiku kesempatan kedua, pun pada diriku sendiri yang menantang kemampuanku untuk pergi dari kehidupanku dulu sebagai mahasiswa Teknik. "jangan jadi dokter yang sombong", sepenggal pesan Ayah yang selalu kuingat sampai kapanpun. Ah, lagipula apa yang harus disombongkan? Hal yang terpenting adalah keberadaanku kuharap dapat memberi manfaat bagi mereka yang membutuhkan.

Friday, June 24, 2022

Pluviophile

Langit Palembang beberapa hari ini lebih sering mendung. Kadang kalau sedang ingin, ia tumpahkan kekesalannya lewat air hujan. Siapa yang paling senang? Oh tentu saja tanaman-tanaman di halaman. Mungkin juga beberapa anak yang curi-curi mandi hujan. Aku juga. Suka hujannya, bukan berarti ikutan mandi hujan ya. Sudah lewat masanya. Aku jadi teringat seorang pluviophile, yang ketika hujan turun ia akan memandangi rintiknya. Kemudian kami saling bercerita, berbagi semua masalah. Keinginan, mimpi, kekhawatiran, ketakutan. Sebenarnya aku betul-betul suka saat hujan. Menarik selimut, membaca buku atau sekadar menonton film, lebih nikmat lagi kalau menyeruput coklat hangat. Rasanya bermalas-malasan jadi terasa benar dilakukan jika sedang turun hujan. Walau kegiatan pokok menjemur baju harus tertunda, tapi tak apa. Mungkin semesta memang sedang meminta waktu istirahat untuk kita. Setidaknya, perasaan nyaman kala hujan bisa membawaku kabur sejenak dari semua cemas, sedih, marah, kecewa, dan semua hal negatif yang kian berkumpul di ruang dalam pikiranku. Sampai berdesak-desakan mereka.

Wednesday, February 16, 2022

sharing

When was the last time you feel genuinely happy? These last months, I always feel guilty for every happiness I had in life. The feeling that I supposed to enjoy it with my dad around. I should’ve share those moments with him. The feeling that… he wasn’t there. The fact that a part of me, being not worthy enough for those happiness. That I’ll never live the same life as before. I’m tortured, lonely, and helpless. I miss you.

Wednesday, January 5, 2022

OS-CE

5 januari 2022 jadi penutup osce sepanjang sekolah dokter umum. Yah untungnya jalur osce ku termasuk jalur bonam alias aman. Terus sorenya, berawal dari chatting singkat dengan kakak perempuanku, ingatanku melambung sampai ke 2016-2019. Hari-hari preklinik ku diwarnai kesibukan mengikuti kuliah di daerah Madang, kemudian praktikum di Indralaya. Beberapa kali dalam sebulan pun aku “nangkring” di FK Bukit untuk kegiatan Skill Lab. Lalu, di akhir periode Blok, aku dan teman sejawat disibukkan dengan ujian MCQ dan OSCE yang selalu buat kami deg-degan. Kala hari ujian OSCE tiba, pagi sekali, pukul 06.30 aku sudah duduk manis di kursi penumpang mobil. Ayah lalu mengantarku menuju FK Bukit (yah perjalanan yang lumayan panjang buat kami yang tinggal cukup jauh). Kalau menuju FK Bukit, kami akan melewati toko roti disebelah Indom*ret. Rotinya lumayan enak menurutku. Ayah yang melihatku gugup sepanjang perjalanan (mau ujian cuy) akan menawariku untuk mampir sekedar membeli roti. “nak roti dak?” “Ayok!” Ujarku yang memang kelaparan, tak peduli jam sudah menunjukkan pukul 07.00 kurang. Lalu aku akan turun membeli roti dan ayah menunggu di mobil. Kadang-kadang ia menjemputku selesai kegiatan OSCE, lalu aku akan bercerita tentang kebodohanku dan kebaikan hati dosen pengujiku hahaha. Ya, bagi kebanyakan sejawat, OSCE merupakan ajangnya konyol, gugup, kurang tidur, dan tremor setiap akhir Bloknya. Kecuali mereka yang expert dan tentunya sudah sering berlatih dirumah. Tak jarang pula, malam-malam kupaksa Ayahku untuk jadi probandus alias pasien gadungan untukku berlatih. Walau terkadang diserang kantuk, ia tetap mau kalau kuminta hehe. Ahhh rindunya. Kunobatkan masa preklinikku adalah masa belajar terindah, dengan segenap kenangan didalamnya. Jatuh bangun dalam prosesnya. Oh yaaa aku juga rindu pada ia yang selalu menawariku roti pagi-pagi di perjalanan menuju FK Bukit. 😜 Bahagia selalu ya disana. Al-Fatihah.

Thursday, December 30, 2021

Katakanlah aku egois

Karena aku mendahulukan mimpiku yang sudah kubangun rapi. Karena malam-malam sulit tidur yang dipenuhi kertas putih. Karena tidak punya waktu untuk mengurus diri sendiri. Karena selalu tampak kusam, dahi berkerut, jerawat yang bersemi, bibir kering dan pucat, tak sempat dandan. Karena tak semodis mereka yang memenuhi timeline instagrammu. Karena selalu tenggelam dibalik layar laptop, lembaran buku, dan memegang pena dengan tangan lusuh. Mungkin aku terkesan marah melulu, tapi percayalah aku juga ingin mengerti kamu. Berada di tim yang sama denganmu. Menata perasaan untuk seperti dulu, hampir mustahil bagiku. Tapi kulapangkan hati untuk menulis ini, pertanda kalau aku mulai mau untuk berdamai dengan masa lalu. Jadi tolong bantu aku, kalau melangkah bersamaku kau juga mau. 😊 Palembang, 30 Desember 2021.

Wednesday, March 10, 2021

Interna oh Interna

Hai. Ini aku. Beberapa bulan belakangan terasa begitu santai bagiku, tapi tidak bagi teman-temanku. Ya, pembelajaran online membuat semangat belajarku ikutan ber-“jarak” denganku. Tapi itu tak berlangsung lama. Hanya dengan hitungan hari aku akan melangkah mengitari RS lagi. Mengais-ngais ilmu ditengah pandemi yang entah kapan akan berakhir ini. Menjadi manusia ambisius dengan keinginan tidur yang tidak kalah ambisnya. Menjalani hari-hari dimana tidur lebih utama daripada mengisi lambung. Mengabaikan peringatan kekurangan glukosa karena melatonin bekerja dua kali lebih keras dari biasanya. Kalau saja aku tunduk dengan isi hatiku, sungguh, melangkah saja aku takkan sanggup. Aku yang timpang sebelah setelah diterpa badai kehilangan di tahun lalu, berusaha untuk menyeretkan kaki. Menapaki perjalanan koasku yang setapak demi setapak dan ditampar kenyataan bahwa, aku ini, banyak kurangnya. Kalau saja ia masih ada, sungguh langkah ini takkan terasa beratnya. Ah, mengoceh saja tidak akan menambah isi otakku. Mereka saja kuat, masa aku rapuh. Sudah ya, aku harus membaca buku. Atau mungkin menonton anime terlebih dahulu. :”D