CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sunday, June 7, 2020

To my dearest hero

Assalammu’alaikum Ayah sayang, papi tercinta, pipi lucu, daddy gembul. Gimana disana? Ayah betah? Seneng gak? Dingin atau hangat? Nyaman gak?
Perpisahan kita terlalu sunyi yah, terlalu cepat berlalu tanpa pesan. Terlalu normal untuk sebuah perpisahan. Ayah pergi terlalu tenang, tanpa merepotkan banyak orang, hanya ayah dan Allah. Kali pertama dan terakhir ema liat ayah terdiam kaku, tanpa senyum manis dan imut ayah, tanpa tawa ayah yang suka bercanda pura-pura pingsan. Untuk waktu yang lama ema berharap ayah akan tiba-tiba bangun, bilang ini semua cuma prank seperti yang sering ayah tonton akhir-akhir ini.
Disaat akan pergi lama meninggalkan rumah pun ayah tetap tersenyum seperti saat ayah melihat ema pertama kali mengenakan snelli dokter muda. Hari pertama koas ayah semangat mengabadikan ema lewat jepretan ayah yang tumben gak blur. Cantik yah, ema baru sadar ema semirip itu sama ayah. Hehe maaf yah ema narsis, kan nurun dari ayah.
Yah, kalau dulu ema selalu berdoa supaya ayah diberi umur panjang dan barokah serta sehat selalu, sekarang ema minta sama yang Maha Mengabulkan supaya ayah masuk surga.
Yah, tak pernah terlintas dibenak ema seperti ini ditinggal ayah. Ayah yang ga pernah ninggalin ema, yang selalu berusaha ada di momen- momen terbaik ema.
Yah, inget ga ketika ema masuk tekim? Padahal ema pingin jadi dokter yah, pingin bisa ngerawat ayah dan mencari amal jariyah. Ema menangis sambil menatap keluar jendela mobil, sementara ayah disamping menyetir jemput ema pulang dari ospek hari ketiga. 
Ayah bilang sama ema jangan patah semangat, ema bisa coba lagi tahun depan. Ema lebih dari mampu untuk masuk FK. Yah, seketika ema tenang, ema lepas menangisi kegagalan ema untuk masuk FK ditahun pertama. Tapi ema bersyukur ayah ada disamping ema, menyetir dan memahami penuh perasaan ema.


Yah, sekarang ema sudah jadi dokter muda yah. Terakhir jaga sebelum covid menyerang pun diantar ayah. Ternyata ema memang anak ayah. Ema ga bisa ga manja sama ayah.

Yah, ema pingin ayah tahu kalau ema cinta dan sayang sama ayah. Ga pernah berkurang malah bertambah. 
Ema pingin ucapin good night & I love you berkali-kali lagi sampai ayah sebel karena ema gangguin ayah yang mau tidur. Mau pijitin ayah lagi, cium-cium ayah lagi, pelukan sama ayah, diimamin sama ayah,  berdebat sama ayah, belajar bareng ayah, dan jalan pagi sama ayah lagi. Ema pingin nganter ayah ngajar lagi, ema pingin keliling kampus buntutin ayah, pingin tensi in ayah, ema pingin jaga malem diantar ayah lagi. kangen deg-degan di telpon ayah kalo pulang kesorean. kangen tiba-tiba dichat romantis sama ayah. 
Orang-orang bilang ema kuat, tapi ema tetaplah anak ayah yang manja.

Yah, yang nyenyak tidurnya. Istirahat yang tenang. Insya Allah kita ketemu lagi di jannah-Nya Allah. 
I love you my dearest superhero❤

Wednesday, January 15, 2020

Hi world. Today is my first official day as a bachelor of medicine. I want to tell someone through this post.
I want to tell you that I'm so proud. I want to thank you for encouraging & always believing me that I'm capable to pass SBMPTN 2016. without hesitation. you always said things like "later on when you've become a doctor ...."
I want you to know that you're one of the reasons why I am now.
I want you right here beside me, though I know I don't even deserve that.






whoah, I think I need more assignments or anything to keep my mind busy & my body exhausted. so that I wouldn't have time to think about you

I'm sorry but it's really hard

Monday, May 14, 2018

hi peeps!
I want to apologize to someone who object to the name I put in some posts.
well, I will delete those posts soon and fairytaleofemo will be back in near future. with new face, new content, and new atmosphere.




i'm preparing you the new me, so please wait patiently.


Regards,



emo

Sunday, April 22, 2018

/ˈfam(ə)lē/


Family.
One word means the whole world for me.

Memang benar apa yang orang-orang katakan, blood is thicker than water. Jelaslah bahwa darah lebih kental dari air, dengan selisih massa jenis 0,06 g/cm3

Ada yang pernah bertanya, “Kenapa sih kok takut banget pulang malem?”
Seketika aku diam. Sekelebat flashback langsung mampir di otakku. Yup, momen ketika ayahku bilang begini, di suatu sore ketika ia baru saja sampai dirumah. (biasanya beliau menjemputku pulang kuliah, tapi kali itu aku memang sudah pulang duluan)

*Ayah*, “Nah anak ayah udah nyampe, Alhamdulillah.”
*aku*, “Hehe iya, kan emang pulangnya cepet.”
*Ayah*, “Iya, ayah tu khawatir kalo anak belum pulang kerumah, apalagi sampe malem ga ada kabar”
-percakapan dilakukan dalam bahasa Palembang-

Disitu aku termangu. Betapa aku sering menyepelekan memberi kabar bahkan hanya lewat sms/line semata karena takut kena marah. Aku tidak tahu betapa ada orang-orang yang memikirkanku seperti ayah dan ibu… betapa aku selama ini menutup mata, merasa jadi orang paling menderita sedunia padahal ada dua malaikat dari surga yang dikirim Allah untuk menjagaku dan adikku.

Aku pun sering mendadak mellow, kala ingat betapa ayah selalu bangun pagi-pagi untuk mengantarku. Atau ingat ibu yang dini hari sudah misuh-misuh mengepulkan dapur agar bisa membawakanku bekal. Lihatlah, ada orang yang begitu memperhatikan pencernaanku. Ya, aku memang sering mellow bahkan over small things. Hal kecil bagi mereka, tapi tidak bagiku karena terselip cinta didalamnya.

Betapapun betahnya ngobrol berjam-jam dengan temanku, masih betahlah aku berceloteh dimeja makan bersama ayah ibu dan adikku.

Terkadang, ketika aku sedang kelabu dilanda masalah, mereka akan tahu bahkan saat aku memilih tetap bisu.
Betapa tinggal serumah bertahun-tahun telah melatih kemampuan telepati kami.

Adikku, yang hanya satu-satunya dan cemprengnya minta ampun itu, walau sering mengganggu dan kuganggu, adalah orang yang setia mendengarkan ceritaku ditengah malam sekalipun. Betapapun kesalnya ia dibangunkan malam hari karena aku minta ditemani ke kamar mandi, tapi ia tetap setia bertanya apakah aku ingin dimasakkan sesuatu. Atau cerewet mengomentari penampilanku yang kadang suka bereksperimen. Ia masih kecil, tapi kadang lebih dewasa dibandingkan aku. Hahaha.

Atau sepupu-sepupuku, yang kalau berkumpul sudah seperti penonton stand up comedy saking seringnya tertawa. Kadang hanya karena hal kecil yang hanya kami saja yang dapat mengerti. Mereka adalah tersangka yang membuat masa kecilku begitu berwarna. Yup, mereka teman pertamaku. Seberapa jauh kami terpisah sekarang, seberapa sibuk, tapi kami akan selalu mencari satu sama lain. Kalau ada hal yang tidak ingin dibicarakan dengan orang tua, kami akan kukuh menyimpan rahasia. Bahkan terang-terangan bekerja sama. Tanpa diminta.

Family is everything. No matter how much we argue, we’ll always find a way to love each other.

Keluarga bagiku adalah segalanya. Sama sekali tidak pernah terbesit niat untuk mengecewakan mereka. Merekalah satu-satunya yang tidak pernah membentuk image apa-apa tentang diri kita. Family is a place where we could be the truest of ourselves.
Mau bagaimanapun rupamu, sifatmu, baik burukmu, status sosialmu, keluarga selalu bisa menerimamu apa adanya. Seberapa sering berselisih paham bahkan sampai bertengkar, jalan pulang selalu mengarahkanmu ke rumah.
Seberapa panjangnya omelan ibumu, atau galaknya ayahmu, merekalah yang pertama kali menyambut kedatanganmu di dunia. Mereka yang pertama kali mengajakmu berbicara. Membimbingmu melangkah. Memegang tanganmu dikala jatuh. Mendengar celotehmu. Mengajarimu bagaimana menjalani kehidupan.
Seberapa sering adikmu mengganggumu, atau kakak memarahimu, tapi merekalah yang pertama kali mau mendengar keluh kesahmu. Mereka ah yang bertahan bertahun-tahun memaklumi sifat burukmu. Merekalah yang pertama kali mengulurkan tangan untukmu. Ikhlas. Tanpa perasaan ingin dibalas sedikitpun.

Love is home.
With ,
Ema

Friday, December 29, 2017

Body Shaming: It's All About Confidence

"Eh liat tuh si X badannya tinggi ya, bagus banget. Coba kamu juga tinggi ya pasti makin oke"
"Wah, si ini suaranya keren deh, coba kamu juga pinter nyanyi kayak gitu"
"Ih kurusin dikit, kek."

Pernah mendengar kalimat-kalimat manis seperti itu? Yup, bahasanya memang manis dan dikemas apik, tapi tahukah kita bahwa kata-kata tersebut sebenarnya merupakan bentuk yang sedikit lebih halus saja dari sebuah sindiran dan angan-angan yang tidak kesampaian.
Mungkin sebagian kita pernah mendengar kata-kata tersebut saat sedang asyik mengobrol dengan orang tersayang. Atau bahkan, kita sendiri yang tanpa sadar pernah melontarkan kata-kata sejenis.
Girls, perlu diketahui bahwa the power of a woman is confidence.
Body shaming itu adalah hal paling mengerikan bagi siapapun--tanpa peduli gender, usia, ras, bahkan agama.

Nah, sebelum ngobrol ngalor ngidul lebih jauh, yuk kenali dulu apa itu body shaming. Menurut en.oxforddictionaries.com, body shaming adalah suatu perbuatan mempermalukan seseorang dengan cara mengejek atau mengkritisi bentuk atau ukuran tubuh orang tersebut. Umumnya, sasaran empuk para pelaku body shaming ini adalah mereka yang memiliki berat badan ekstra atau obese. Eits, tapi jangan salah karena mereka yang bertubuh kurus atau memiliki tinggi badan dibawah rata-rata pun tak jarang mengalami hal ini. Penulis sendiri merupakan korban body shaming kategori kedua karena postur yang mini-mni ini :’D

Lantas, kita semua pasti bertanya, apa sih penyebab munculnya body shaming ini?

Seperti yang pernah disinggung diawal tadi, body shaming muncul karena adanya figure “sempurna” mengenai bentuk tubuh ideal. Di era media social ini, readers pasti pernah mendengar berita tentang orang yang rela melakukan operasi plastik, suntik ini itu, demi mendapatkan bentuk tubuh atau wajah seperti artis idola? Yup, munculnya figure-figur berpostur sempurna memang bisa menjadi motivasi untuk mendapatkan tubuh ideal, guys. Tapi sadarkah kita, bahwa terkadang kita malah meremehkan bentuk tubuh diri sendiri bahkan orang lain, hanya karena tidak “sesempurna” sang idola?

Tentu kalau postur sempurna dijadikan motivasi untuk hidup yang lebih sehat, tulisan ini tidak akan pernah ada. Tetapi, bagaimana kalau hal tersebut malah dijadikan alasan untuk mengejek anugerah yang diberikan Tuhan pada orang lain? Tahukah kita bahwa body shaming dapat berdampak buruk bagi kepercayaan diri seseorang? Di beberapa negara malah mengakibatkan seorang anak tidak punya keberanian untuk berkomunikasi dengan ibunya setelah sang Ibu (ibunya sendiri OMG) memposting foto sang anak yang obese dengan kata-kata menyakitkan. Seems like we have to take it seriously.

Body shaming tidak hanya tentang menghina bentuk tubuh orang lain secara langsung maupun tidak langsung. Diri kita sendiri pun dapat menjadi pelaku body shaming terhadap tubuh kita sendiri. Tentu kita tidak ingin dicap sebagai orang yang tidak mampu bersyukur. Namun, menentang body shaming juga bukan alasan untuk tidak memperhatikan kesehatan terutama pola makan. Kita seharusnya jadi orang yang paling mengenali tubuh kita. Tetap berusaha hidup sehat dan menutup telinga terhadap perkataan negatif mengenai tubuh kita adalah dua hal penting yang dapat menangkal body shaming.
Dan kita pun perlahan harus belajar untuk menempatkan diri di posisi orang lain sebelum berucap baik secara lisan maupun di media sosial.



References:




Saturday, November 4, 2017

Minta Maaf

Setelah baca-baca lagi posting kemarin, malam ini aku jadi terpikir. Apa jadinya jika ia yang kusebut teman membacanya? Akankah hatinya sedih? Apakah ia menyadari bahwa tulisan itu tertuju padanya? Terlepas dari apa yang ia lakukan, aku jadi berpikir lagi. Masih ada kemungkinan bahwa semua itu hanya kebetulan. Ia tidak benar-benar sengaja menccariku disaat-saat terdesak saja. 
Aku harusnya bersyukur, setidaknya aku masih bisa berguna untuk sesama. Setidaknya, aku bisa bercengkrama dengan ia yang sudah menemani masa-masa sekolahku dari putih merah hingga ke putih abu. 
Setidaknya, dalam 1 jam kami bertemu, aku bisa sepenuhnya menjadi diriku sendiri. Aku bisa bebas bercerita apapun yang tidak bisa kuceritakan pada siapapun. Aku bisa menertawakan kehidupan tanpa merasa takut lawan bicaraku tersinggung. Kami jarang saling memuji, tapi tidak pernah membiarkan satu sama lain terus menerus melakukan hal yang salah. Kami jarang bertemu, tapi ketika berkumpul bersama tidak pernah kehabisan bahan cerita. Aku baru menyadari bahwa dia adalah satu-satunya teman yang kuanggap paling mengerti diriku. Ia orang yang tulus, pandai bergaul tapi tidak lihai berpura-pura. Ia selalu tulus dimataku. Lantas, apa yang meracuni pikiranku beberapa hari lalu?
Aku bukan tipe orang yang cepat akrab dengan orang baru. Aku juga sulit untuk mengungkapkan perasaan dengan benar. Aku selalu berhasil terlihat cuek dan selalu bias mengontrol emosiku tanpa perlu berusaha keras. Didepan banyak orang. Yah, karena aku memang tidak peduli.
Tapi kau tahu, aku selalu berusaha sangat keras untuk menyembunyikan kegelisahan didepan keluargaku, teman terdekatku, dan dia yang kusebut mr. K. Aku lebih sering menumpahkan emosi didepan layar laptop dan dalam malam-malam sunyi yang memaksa air mataku tumpah. Sendirian. Terkadang aku menjadi lemah, rapuh, sensitif. Tapi sekali lagi, semua itu hanya kupendam sendiri. Oh, kau tahu bagaimana menderitanya menjadi seorang introvert seperti aku?
Dan malam ini, aku baru menyadari betapa egoisnya aku pada temanku sendiri. Ia yang didepannya aku selalu merasa nyaman. Aku bersalah karena menganggapnya egois. Padahal kenyataannya, aku yang egois karena merasa telah terlalu baik padanya. Hah?

Saturday, October 28, 2017

A friend in need is a friend indeed

Teman. Jujur saja, apa yang kau harapkan dari seorang teman? Orang-orang yang kebetulan dapat kau sapa? Tempat untuk berbagi? Berbagi apa? Kebahagiaankah? Kesulitan yang kau alamikah? 
Sampai berapa lama harus saling mengenal hingga kalian bisa disebut berteman? Mereka yang baru 1-2 tahun bersama ataukah harus menunggu berbelas tahun dulu baru bisa disebut teman?
Jika teman hadir untuk saling berbagi, bukankah itu berarti dalam tiap keadaan kalian dapat bercerita? Membagi apapun yang dirasa? Mendapat seseorang untuk sekadar mendengar curhat kita?
Memang manusia tidak tercipta untuk selalu merasa bahagia. Bahagia dan nestapa itu ibarat sebuah roda. Ya, aku tahu itu.
Teman ada untuk mendengarkan semua keluh kesah. Kadang menjadi solusi disaat kita merasa susah. Tapi, wajarkah bila ia hanya datang ketika sulit saja?
Jahat sekali bila pandangan seperti itu ditujukan untuk seseorang yang kau sebut teman. Aku tahu ini salah. Aku menulis yang tak seharusnya. 
Aku tahu ini gila. Tapi bagaimanapun, kau terlanjur membaca tulisan ini.
Pantaskah aku menerimanya? Apa salahku? Apa aku terlalu membosankan untuk jadi teman disela canda tawanya? Apakah aku hanya sebuah tempat dimana ia bisa mencariku ketika ia butuh apa yang tak bisa diberikan teman-temannya?

Aku bisa gila karena terus-terusan menganggap ini salah. Pikiranku kacau. Aku terus meyakinkan diri bahwa anggapanku semuanya salah. Tapi lama-lama ini membuatku gila. Aku tak bisa bercerita karena mungkin saja aku salah sangka. Wajarkah ini? Benarkah aku hanya jadi pelarian yang dicari ketika tak ada tempat lain yang bisa didatangi? 


Sekarang terserah padamu, kau akan membuat prasangkaku jadi nyata atau malah menumpah ruahkan segala pikiran burukku.